username

password


pengisian username lengkap dengan domain misalnya sekretariat@smkn2balige.sch.id

IP anda adalah:
54.198.224.121

Anda adalah pengunjung:
Bernike Sofia Anen


Selamat Datang di Website Resmi SMK Negeri 2 Balige Kabupaten Toba Samosir

 Senin, 10 February 2014
SMK NEGERI 2 BALIGE AKAN LAKUKAN UJI KOMPETENSI
Oleh : Jelarwin Dabutar, S.Pd., M.Pd Kepala SMK Negeri 2 Balige. Uji Kompetensi Keahlian (UKK) pada SMK merupakan bagian Ujian Nasional. Hasil Uji Kompetensi Keahlian menjadi Indikator ketercapaian standar kompetensi lulusan yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2009 tentang Standar Komptensi dan Kompetensi Dasar Kejuruan, sedangkan bagi Stakeholder akan dijadikan sebagai Informasi atas Komptensi yang dimiliki si calon tenaga Kerja. Oleh karena Kurikulum yang dikembangkan dan dilaksanakan menggunakan pendekatan berbasis Kompetensi (competency-based curriculum), maka Uji Komptensi Keahlian harus menggunakan metode Penilaian bebasis Kompetensi (competency-based assessment). Pelaksanaan ini diarahkan untuk mengukur dan menilai performansi Peserta Uji meliputi aspek Pengetahuan, Ketrampilan dan Sikap. Siswa dikatakan Lulus Uji Kompetensi (UKK), jika sudah melaksanakan UKK yang meliputi Uji Kompetensi Praktik dan Uji Kompetensi Teori. Uji Kompetensi Teori digunakan untuk mengukur Pengetahuan dan Pemahaman siswa, sedangkan uji kompetensi praktik berfungsi untuk mengukur kemampuan atau peformansi peserta Uji dalam mengerjakan sebuah Penugasan sesuai tuntutan standar kompetensi (Pedoman Penyelenggaraan Uji Kompetensi Keahlian SMK Tahun Pelajaran 2013/2014). Sedangkan Skor Uji Kompetensi Praktik adalah 70% dan Uji Kompetensi Teori sebesar 30%. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2013:38), secara keseluruhan skor yang harus diperoleh siswa untuk Lulus Uji Kompetensi yaitu minimal 6,0. SMK Negeri 2 Balige akan melakukan UKK mulai Senin 24 Pebruari 2014 s/d Senin 3 Maret 2014. Kesiapan Pelaksanan telah melalui banyak proses termasuk Verifikasi Penyelenggaraan UKK. Sesuai dengan Buku Pedoman Penyelenggaraan UKK, Pelaksanaan Uji Kompetensi Keahlian harus memenuhi Standar perlengkapan dan peralatan. Salah satu perlengkapan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan UKK adalah verifikasi Tempat Pelaksanaan Ujian. Selain verifikasi Tempat Pelaksanaan UKK, Penyelenggara Uji Kompetensi juga harus melakukan verifikasi Peralatan, Standarisasi Penguji, baik Penguji Internal maupun penguji Eksternal dan perhitungan rincian biaya UKK. Dari hasil Verifikasi yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu, SMK Negri 2 Balige dinyatakan Layak untuk menyelenggarakan UKK oleh Tim Verifikasi Pelaksana Ujian Nasional. Selamat Uji Kompetensi bagi SMK Negeri 2 Balige, semoga Sukses selalu, Horas  ...


 Selasa, 24 September 2013
SUPERVISI KEPALA SEKOLAH
Oleh : Jelarwin Dabutar, S.Pd., M.Pd Kepala SMK Negeri 2 Balige. Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 menyatakan bahwa seorang Kepala Sekolah harus menguasai Standar Kompetensi Kepala Sekolah yang terdiri atas : Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Manajerial, Kompetensi Supervisi, Kompetensi Kewirausahaan dan Kompetensi Sosial. Penjabaran kompetensi supervisi pada intinya adalah supervisi akademis dimana langkah-langkah yang dilakukan adalah merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat serta menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalismenya. Landasan Hukum. (1) Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2) Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (3) Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (4) Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi  Kepala Sekolah / Madrasah (5) Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru dan (6) Permendiknas RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Supervisi Kepala SMK Negeri 2 Balige merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dalam rangka mempertajam pelaksanaan tugas-tugasnya sehari-hari di sekolah, sebab Program Supervisi dirancang mencakup semua komponen yang terkait dengan Tugas-tugas Guru.. Mengingat UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mencerdas­kan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggung jawab. Maka SMK Negeri 2 Balige yang sudah memegang sertifikasi ISO 9001 ; 2008 akan terus-menerus bekerja keras meningkatkan Mutu Pendidikan. Harus disadari bahwa untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar tersebut, guru mempunyai peranan yang sangat penting karena gurulah yang berfungsi secara langsung dalam proses belajar mengajar. Sedangkan Kepala sekolah menduduki posisi yang strategis di dalam pencapaian keberhasilan suatu sekolah yang berperan sebagai pemimpin pendidikan, administrator dan supervisor (Udik Budi Wibowo, 1994 : 11). Kepala Sekolah sebagai pemimpin karena mempunyai tugas untuk memimpin staf (guru-guru, pegawai dan pesuruh) untuk membina kerjasama yang harmonis antara anggota staf sehingga dapat membangkitkan semangat yang dipimpinnya serta meningkatkan suasana yang kondusif. Kepala sekolah sebagai Supervisor Pendidikan, mempunyai kewajiban membimbing dan membina guru atau staf lainnya. Pembinaan dan bimbingan guru akan berpengaruh besar terhadap kelangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar. Tugas kepala sekolah sebagai supervisor tersebut adalah memberi bimbingan, bantuan dan pengawasan dan penilaian pada masalah-maslah yang berhubungan dengan tehnis penyelenggara dan pengembangan pendidikan, pengajaran yang berupa perbaikan  Program pengajaran dan kegiatan-kegiatan pendidikan pengajaran untuk dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik (Hartati Sukirman 1999 : 45). Dalam buku pedoman pelaksanaan supervisi pendidikan (2000: 11) disebutkan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total, ini berarti bahwa tujuan supervisi tidak hanya memperbaiki mutu guru, tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk di dalamnya pengadaan fasilitasfasilitas, pelayanan, kepemimpinan dan pembinaan human relation yang baik kepada semua pihak yang terkait. Pada tahun Pelajaran 2013/2014 SMK Negeri 2 melakukan supervisi Klinis yang bertujuan untuk : (1) Membantu guru agar dapat membantu murid-murid dalam proses belajar mengajar (2) Membantu guru agar dapat melihat dengan jelas tujuan pendidikan.  (3) Membimbing guru agar dapat mengefektifkan penggunaan sumber-sumber belajar. (4) Membantu guru agar dapat mengevaluasi kemajuan belajar murid. (5) Membantu guru agar dapat menjalankan tugasnya dengan perasaan penuh tanggungjawab. Adapun ruang lingkup Program Supervisi Tahun 2013/2014 pada SMK Negeri 2 Balige adalah : Supervisi Akademis yang meliputi administrasi kelengkapan KBM seperti (1) Silabus (2) Rencana Program Pembelajaran (RPP) (3) Jadwal Tatap Muka (4) Progam Tahunan (5) Program Semestre (6) Program Bimbingan (7) Daftar Nilai (8) Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (9) Daftar Hadir Siswa (10).Kalender Pendidikan (11) Agenda Harian dan (12) Supervisi Pelaksanaan PBM di Ruang Kelas. Pelaksanaan Supervisi dijadwalkan Bulan September 2013 sampai dengan Oktober 2013. Selanjutnya hasil supervisi akan dibahas secara bersama dengan semua komponen pada Bulan Nopember 2013.  


 Sabtu, 21 September 2013
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI PENGGUNAAN MEDIA BERBASIS ICT
Oleh : J. Dabutar, S.Pd., M.Pd Kepala SMK Negeri 2 Balige.   Teknologi baru terutama multimedia  mempunyai peranan semakin pen­ting dalam proses  pembelajaran.  Banyak orang  percaya  bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana learning with effort akan dapat digantikan dengan  learning with fun.  Jadi proses Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) tidak membosankan akan menjadi pilihan tepat bagi para guru. Paling tidak multimedia dapat membuat bel­ajar lebih efektif sebagaimana pendapat yang pernah diberikan oleh beberapa pengajar.   Sistem pembelajaran yang selama ini dilakukan yaitu sistem pembelajaran kon­vensional  (faculty teaching),  kental dengan suasana instruksional dan dirasa kurang sesuai dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Lebih dari itu kewajiban pendidikan dituntut untuk juga me­masukkan nilai-nilai  moral, budi pekerti luhur, kreatifitas, kemandirian dan kepe­mimpinan, yang sangat sulit dilakukan dalam sistem pembelajaran yang konven­sional.  Sistem pembelajaran konvensional kurang  fleksibel dalam mengakomodir perkembangan materi kompetensi karena guru harus intensif menyesuaikan materi pelajaran dengan perkembangan teknologi terbaru. Adalah Kurang bijak­­sana  jika perkembangan teknologi jauh lebih cepat dibanding dengan kemampu­an guru da­lam menyesuaikan materi kompetensi dengan perkembangan tersebut, oleh  karena­nya da­pat dipastikan lulusan akan kurang memiliki penguasaan pe­nge­tahu­­an teknologi yang terbaru. Pada kenyataannya bahwa saat ini Indonesia memasuki era informasi yaitu suatu era yang ditandai dengan makin banyaknya medium informasi, ter­sebar­­nya informasi yang makin meluas dan seketika, serta informasi dalam ber­bagai bentuk yang bervariasi tersaji dalam waktu yang cepat. Penyajian pesan pa­da era infor­masi ini akan selalu menggunakan media, baik elektronik maupun non elek­tro­­nik. Terkait dengan kehadiran media ini, Dimyati (1996) menjelaskan bah­wa suatu media yang terorganisasi secara rapi mempengaruhi secara sistema­tis  lem­baga-lembaga pendidikan seperti lembaga keluarga, agama, sekolah, dan pra­muka.  Dari  uraian  tesebut menunjukkan bahwa kehadiran media telah mem­penga­ruhi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk sistem pendidikan kita, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. Disadari atau tidak bahwa hasil belajar seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang  mempengaruhinya. Salah satu faktor yang ada di luar individu adalah ter­sedia­nya media pembelajaran yang memberi kemudahan bagi individu untuk mem­­­pelajari materi pembelajaran, sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik. Se­lain itu juga gaya belajar atau  learning style merupakan suatu karakteris­tik  kog­nitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang re­latif stabil bagi pembelajar yang merasa saling berhubungan dan bereaksi ter­hadap lingkungan belajar.   1.          Permasalahan a.   Minat belajar siswa rendah, mrngakibatkan Hasil Belajar rendah b.   Kemampuan guru dalam menggunakan ICT rendah   2.          Strategi Pemecahan Masalah a.   Deskripsi Pemecahan Masalah Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat dinamis, selalu bergerak, selalu terjadi perubahan dan pembaharuan. Sekolah sekolah terus berpacu memunculkan dan mengejar keunggulannya masing-masing. Memasuki era globalisasi menjadi satu tantangan tersendiri bagi pengelola pendidikan untuk menyesuaikan kuri­kulum dan sarana pendidikan mereka dengan berbagai teknologi canggih agar bisa menghasilkan siswa yang mampu bersaing di era ‘global village’. Mencermati banyaknya kritisi masyarakat terhadap mutu pendidikan, maka SMK Negeri 2 Balige perlu me­lakukan upaya-upaya peningkatan hasil belajar secara terus-menerus. Strategi pemecahan masalah dilakukan dengan : ·     Analisis hasil belajar Melihat hasil belajar siswa melalui pengumpulan nilai harian, bulanan, tengah semestar maupun Nilai semaster. Ternyata prosentase remedial masih tinggi. ·     Analisis proses belajar mengajar Sehubungan dengan banyaknya siswa tidak mencapai KKM, Kepala Sekolah melalui supervisi kelas memantau Proses belajar mengajar (PBM). Temuan yang didapatkan bahwa peserta didik ternyata kurang respon dengan pembelajaran Konvensional yang disajikan oleh guru. ·     Rapat dengar pendapat siswa tentang pelaksanaan PBM Dengar pendapat siswa dilakukakan dalam rangka pencapaian hasil belajar yang lebih baik. Kendala-kendala yang dihadapi siswa dalam pem­b­­elajaran dapat diungkapkan pada saat dengar pendapat siswa. Secara umum pembelajaran yang disajikan oleh guru tidak menarik perhatian siswa, sebab pembelajaran dilakukan dengan konvemsional. ·    Rapat dewan guru membuat komitmen penggunaan ICT  Kepala Sekolah bersama funsionaris Sekolah menyikapi keadaan tersebut dan mengambil terobosan-terobosan dalam upaya peningkatan hasil belajar di SMK Negeri 2 Balige. Dari berbagai pendapat dan masukan para guru akhirnya rapat dewan guru mengambil suatu kesimpulan bahwa guru-guru SMK Negeri 2 Balige akan menggunaan media pembelajaran berbasis ICT  untuk meningkatkan hasil belajar siswa.   b.   Tahapan Operasional Pelaksanaannya. Untuk melakukan pembelajaran berbasis ICT tidaklah semudah mengatakan­nya. Kemampuan menggunakan ICT harus dilatih sebelum di­terapkan dalam pembelajaran.  Langkah-langkah yang telah dilakukan SMK Negeri 2 Balige dalam rangka persiapan pembelajaran berbasis ICT : ·     Sosialisasi pembelajaran berbasis ICT ·     Diklat penggunaan media berbasis ICT dalam pembelajaran ·     Diklat penggunaan model-model Pembelajaran ·     Peertaching penggunaan media berbasis ICT ·     Penggunaan media berbasis ICT dalam proses belajar mengajar.       PEMBAHASAN   1.          Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah Guru sering menghadapi kesulitan dalam menjelaskan suatu meteri pel­ajar­an kepada muridnya. Misalnya, ingin menjelaskan tentang seekor binatang yang disebut gajah kepada siswa SD kelas awal. Atau guru ingin men­jelas­kan tentang kereta api kepada murid anda yang berada di Kalimantan, Irian, atau di tempat lain yang tidak ada kereta api. Atau guru ingin menjelaskan tentang apa itu pasar terapung. Ada beberapa cara yang mungkin anda lakukan. ·       Cara pertama, guru akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar tera­pung. Guru bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila muridnya tersebut sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gam­bar di buku misalnya, maka betapa sulitnya guru menjelas hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut. Kalau gurunya seorang yang ahli bercerita, tentu ceri­ta guru akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang di­beri­kan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi. ·       Cara kedua, guru membawa murid studi wisata melihat objek itu. Cara ini me­ru­pakan yang paling efektif dibandingkan dengan cara lainnya. Namun berapa biaya yang harus ditanggung, dan berapa lama waktu diperlukan ? Cara ini walaupun efektif tapi tidak efisien. Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala sesuatu. ·       Cara ketiga, guru membawa gambar, foto, film, video tentang objek tersebut. Cara ini akan sangat membantu guru dalam memberikan penjelasan. Selain meng­hemat kata-kata, menghemat waktu, dan lebih mudah dimengerti oleh murid, menarik, mem­bangkit­kan motivasi belajar, menghilangkan kesalahan pemahaman, serta informasi yang guru sampaikan menjadi konsisten. Ketiga cara di atas dapat kita sebutkan cara pertama sebagai informasi verbal, cara kedua berupa pengalaman nyata, sedangkan cara ketiga informasi me­lalui media. Di antara ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah cara yang paling bi­jaksana dilakukan. Penggunaan media berbasis ICT saat ini sangat diperlukan agar pembelajaran lebih efektif dan efisien. Harus kita sadari dalam pro­ses penyampaian pesan seringkali terjadi gangguan yang mengakibatkan pe­san pembelajaran tidak diterima oleh siswa sebagimana yang di­mak­sudkan oleh pe­nyampai  pesan (guru). Gangguan-gangguan komunikasi antara guru-siswa ini kemungkinan disebabkan oleh be­be­rapa hal seperti : verbalisme, salah taf­sir,  perhatian ganda, kondisi ling­ku­ng­an yang tidak menunjang. Verbalisme terjadi apabila seseorang hanya mengetahui kata yang me­wakili suatu objek, tetapi  tidak mengetahui objeknya. Atau, seseorang mengetahui nama konsep, tetapi tidak tahu substansi konsepnya. Verbalisme bisa ter­jadi kalau dalam proses interaksi belajar-mengajar hanya melibatkan media ver­bal sehingga siswa cenderung hanya meniru sebagaimana yang disampaikan oleh guru tanpa memahami maknanya. Salah tafsir dapat mengganggu proses penyampai­an pesan pembela­jar­an. Hal ini bisa terjadi apabila istilah-istilah yang dimunculkan dalam proses pe­­nyampaian pe­san itu tidak dipahami dengan benar oleh penerima pesan. Perhatian yang tak terpusat atau ganda sering dapat diacukan sebagai penyebab terganggunya proses komunikasi. Gangguan perhatian muncul di­ka­renakan prosedur penyampaian pesan yang membosankan, atau disebab­kan perhatian siswa yang lebih tertarik pada hal-hal yang lain di luar pesan yang sedang disampaikan (Sadiman 1996:27). Kunci pemecahan masalah yang berkaitan dengan gangguan proses pe­nyampaian pesan pembelajaran ini terletak pada media yang dipakai. Pemilihan media yang tepat, sesuai dengan keistimewaan yang di­mi­likinya, akan dapat memperkecil gangguan tersebut.  Sampai saat ini para ahli dunia pendidikan memberikan beberapa defi­ni­si yang berkaitan dengan media. Media berasal dari bahasa Latin dan merupa­kan bentuk jamak dari kata  medium yang secara harfiah berarti pe­rantara atau pengantar.  Para ahli memberikan batasan pengertian antara lain : Martin dan Briggs, Schramm, Gagne, Briggs (1988:8) mengemukakan bahwa media men­­­­cakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan sis­­wa. Sarana yang dimaksud bisa berupa perangkat keras dan perang­kat lunak, seperti : komputer, televisi, OHP, video tape, slide, buku, film, mo­del, gambar,  transparansi, dan lain-lain. Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa media merupa­kan  sara­na atau alat yang dapat digunakan untuk memperlancar komunikasi, dan bisa berupa perangkat keras dan perangkat lunak. Ely (1971:52) mendefinisi­kan media menjadi dua bagian, yaitu dalam arti luas dan sempit. Media dalam arti  luas, mencakup ; orang, material atau kejadian yang dapat menciptakan kon­disi, sehingga  memungkinkan  siswa dapat memperoleh pengetahuan, kete­rampilan atau sikap yang baru. Pengertian ini menunjuk kepada guru,buku, dan lingkungan sekolah. Sedangkan dalam arti sempit meliputi;grafik, potret, OHP,  gambar, model, alat-alat mekanik dan elektronik yang diperlukan untuk me­nang­­kap, memproses serta menyampaikan visual atau verbal. Kwarta 2009 mendefinisikan media pem­belajaran berbasis ICT merupa­kan teknologi yang me­libat­kan pengumpulan, penyimpanan, penyuntingan, dan penyebaran informasi dalam berbagai bentuk, menggunakan peralatan berbasis Teknologi : Radio, Televisi, Komputer (Intranet dan Internet). Oleh karena itu sangatlah tepat jika dalam pembelajaran dipilih media pembelajaran berbasis ICT. Karena penggunaan media berbasis ICT me­rupa­kan komunikasi yang efektif dimana pesan yang akan disampaikan lebih me­narik sehingga tidak membosankan.   2.          Hasil atau dampak yang dicapai dari Strategi yang dipilih Kondisi awal pada TP 2010/2011, secara umum pembelajaran dilakukan dengan konvensional. Penerapan konvensional ditandai dengan penyajian pengalaman-pengalaman yang berkait­an dengan konsep yang akan dipelajari, dilanjutkan dengan pemberian informasi oleh guru, tanya jawab, pemberian tugas menulis oleh guru, pelaksanaan tugas oleh siswa sampai pada akhirnya guru merasa bah­­wa bahan ajar yang telah diajarkan dapat di­mengerti oleh siswa (Putrayasa, 2001). Guru tidak banyak memberikan kesempatan ke­pada siswa untuk melak­sana­kan tanya jawab multi arah (Guru-siswa, siswa-siswa) dan melakukan tugas menulis baik secara terbatas maupun secara bebas. Penyampaian materi pelajaran lebih banyak ditempuh melalui ce­ramah dan tanyajawab dua arah (guru-siswa). Siswa memiliki ketergantungan yang sangat besar kepada guru dalam melakukan kegiatan PBM. Sulaeman (1998) mengatakan  bahwa siswa sangat mudah mengabaikan guru-guru yang cara mengajarnya berulang-ulang dan karenanya tidak menarik per­hatian mereka. Sehingga siswa bosan duduk di ruang kelas mengikuti pelajaran dan hasil bel­ajar rendah selanjutnya remedial menjadi penyelesaian belajar tuntas. Saat ini guru-guru SMK Negeri 2 Balige telah memahi apa yang dikata­kan Pandapotan 2002 : Media merupakan komunikasi yang efektif dimana pe­san yang akan di­sam­paikan dapat lebih menarik dan menghindari kebosanan, oleh karena media dapat terdiri atas multi media, seperti vidio, suara dan lainnya. Hasil atau dampak dari strategi ini adalah : guru-guru SMK Negeri 2 Balige tidak ada lagi yang gatek, sebagian besar telah melakukan pembelajaran berbasis ICT,  mengakibatkan PBM lebih hidup, peserta didik termemotivasi untuk belajar lebih baik sehingga kualitas hasil belajar makin meningkat.   3.          Kendala-kendala yang dihadapi dalam melaksanakan strategi yang dipilih Kendala yang dihadapi adalah masih ada guru enggan meng­gunakan media ber­basis ICT dalam mengajar. Berdasarkan pengalaman dan diskusi dalam ber­bagai kesempat­an dengan para guru-guru, ternyata di SMK Negeri 2 Balige sekurang-kurangnya ada enam penyebab guru tidak menggunakan media, yaitu ;   Ø         Pertama, menggunakan media itu repot. Mengajar dengan menggunakan media perlu persiapan. Apalagi kalau media itu se­macam OHP, Infokus/Laptop atau video. Guru sudah repot dengan me­nulis persiapan mengajar. Jadwal padat, urusan di rumah dan lain-lain. Boro-boro sempat memikirkan media. Demikian kurang lebih alasan yang sering dikemuka­kan para guru. Padahal kalau sedikit saja mau berpikir dari aspek lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka alas­an repot itu akan hilang. Pikirkanlah bahwa dengan sedikit repot, tapi mendapat­kan hasil optimal.     Ø         Kedua, media itu canggih dan mahal. Guru mengatakan bahwa media itu canggih dan mahal, sehingga guru sulit mempelajari dan tidak bisa membeli. Walaupun seharusnya tidak selalu media itu harus canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya (apalagi harganya yang mahal) namun terletak pada efektivitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media seder­hana dapat dikembangkan sendiri oleh guru dengan harga murah.   Ø         Ketiga, tidak bisa. Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kesetrum, takut salah pijit. Alasan ini men­jadi lebih parah kalau ditambah dengan takut ru­sak, sehingga media audio visual sejak beli baru tetap tersimpan rapih di ruang kepala sekolah. Sebenarnya, dengan sedikit latihan dan mengubah sikap bah­wa media itu mudah dan menyenang­kan, maka segala sesuatunya akan ber­ubah.   Ø         Keempat, media itu hiburan sedangkan belajar itu serius. Alasan ini jarang ditemui, namun ada. Menurut pendapat orang-orang ter­dahu­lu bel­ajar itu sesuatu yang serius. Belajar harus mengerutkan dahi. Media itu iden­tik dengan hiburan. Hiburan adalah hal yang berbeda dengan belajar. Tidak mung­kin belajar sambil santai. Ini memang pendapat orang-orang jaman dulu. Paradig­ma belajar kini sudah ber­ubah. Kalau bisa dilakukan dengan menyenang­kan, meng­apa harus dengan menderita. Kalau bisa dilakukan dengan mudah, meng­apa harus menyusahkan diri ?   Ø         Kelima, tidak tersedia. Tidak tersedia media di sekolah, mungkin ini adalah alasan yang masuk akal. Tapi seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja. Ia adalah seorang profesional yang harus penuh inisiatif. Seperti telah disebutkan di atas, media tidak harus sela­lu canggih, namun dapat juga dikembangkan sendiri oleh guru. Khusus di SMK Negeri 2 Balige, sarana dan prasarana untuk itu sudah sangat memungkinkan di­laksanakan. Ø         Keenam, kebiasaan menikmati bicara. Berbicara itu memang nikmat. Ini kebiasaan yang sulit diubah. Seorang guru akan cenderung mengikuti guru dahulu. Meng­ajar dengan mengandal­kan verbal lebih mudah, tidak memerlukan persiapan yang banyak, jadi lebih enak untuk guru. Namun yang harus dipertim­bang­kan dalam proses pembelajaran adalah kepentingan murid yang belajar, bukan kepuasan guru semata.   4.          Faktor Pendukung Faktor pendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT di SMK Negeri 2 Balige adalah : ·       Adanya sarana dan prasarana yang memadai baik milik sekolah maupun milik pribadi guru. ·       Jumlah guru di SMK Negeri 2 Balige yang telah disertifikasi sudah mencapai  75%, sehingga mudah untuk memotivasi agar memiliki laptop masing-masing. ·       Antusias guru terhadap perkembangan teknologi cukup tinggi. ·       Adanya Komitmen Kepala Sekolah dan Guru untuk melakukan pembelajaran berbasis ICT.   5.          Alternatif Pengembangan Mengingat kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT SMK Negeri 2 Balige menganjurkan sejumlah pertimbangan untuk memilih media pembelajaran yang tepat. Untuk lebih mudah mengingatnya, per­timbangan ter­sebut dapat dirumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari; Access, Cost, Technology, Interactivity, Organization, dan Novelty.   Ø  Access. Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apa­kah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh murid ?  Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertim­bang­kan terlebih dahulu apakah ada saluran untuk internet ? Akses juga menyang­kut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diijinkan untuk meng­gunakannya ? Komputer yang terhubung ke internet jangan hanya digunakan untuk kepala sekolah, tapi juga guru, dan yang lebih penting untuk murid. Murid harus mem­peroleh akses. Ø  Cost. Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya itu harus kita hitung dengan aspek manfaatnya. Semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.   Ø  Technology


 Minggu, 01 September 2013
SMK Negeri 2 Balige Raih Juara Pertama Lomba Tangkas Terampil Koperasi Untuk Wilayah 2 Sumatera Utara
Penyelenggaraan ivent tahunan antar kabupaten lomba tangkas terampil koperasi untuk wilayah 2 Propinsi Sumatera Utara di pusatkan di Kabupaten Toba Samosir. Ivent ini diikuti oleh kabupaten Toba Samosir, Samosir, Tapanuli Utara, serta Kabupaten Humbang Hasundutan. Peserta lomba  dari masing masing kabupaten merupakan Siswa/i tingkat SMA/ SMK. Perwakilan kelompok dari tiap kabupaten merupakan SMA/SMK yang telah meraih juara di tingkat SMA/SMK di masing masing kabupaten, dan untuk perwakilan dari Kabupaten Toba Samosir yakni SMK N 2 Balige, Kabupaten Humbang Hasundutan yakni SMK 1 Pangururan, Kabupaten Samosir yakni SMA 1 Pangururan serta perwakilan dari Kabupaten Tapanuli Utara yakni SMK 1 Siatas Barita.  Lomba ini diselenggarakan oleh Dekopinda Wilayah 2, sabtu (29/6) di Aula SMK N 1 Balige. Pada perlombaan ini juri mempersiapkan 10 pertanyaan  rebutan  serta 10 pertanyaan wajib untuk masing masing kelompok. Dan untuk setiap perwakilan kabupaten, satu kelompok ada tiga siswa yang berhak memberikan jabawan.  Pada saat lomba, guru pendamping dari SMK N 2 Balige, sempat mempertanyakan soal yang dilemparkan kepada siswanya, pasalnya dia memberitahukan bahwa jabawan yang dilontarkan siswanya adalaha benar, namun juri sempat mengatakan bahwa jabawan itu salah.  Saat itu suasana perlombaan agak tegang, karena dari beberapa soal yang dilemparkan juri kepada peserta tidak lagi dipelajari, Salah satu soal yang tidak diketahui siswa mengenai UU no 25  tahun 1997 tentang perkoperasian, guru pendamping SMK N 2 Balige Mario Simajuntak mengklaim, bahwa UU tersebut sudah tidak dipakai lagi karena UU terbaru sudah terbit yakni  UU no 17 tahun 2012.  Menanggapi perselisihan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Toba Samosir, Jonni Hutajulu, meminta ijin kepada Dewan Juri untuk memberikan pernyataan pada saat lomba  tersebut. Dikatakan jonni, bahwa pernyataan yang dilontarkan oleh guru pendamping dari SMK N 2 Balige adalah benar, seraya memperjelas, diucapkannya UU terbaru mengenai perkoperasian di muat pada UU no 17 tahun 2012.  Perlombaan ini memperebutkan Piala dari Dekopinda Wilayah dua. Dalam Perlombaan ini, yang berhak mendapatkan juara satu dari SMK N 2 Balige dengan poit 900 untuk pertanyaan wajib serta 500 point untuk pertanyaan rebutan sedangkan untuk menduduki juara dua diraih oleh SMK N1 Siatas Barita dengan point 975 dan 300, serta untuk juara ke tiga diraih oleh SMK N 1 Dolok Sanggul dengan jumlah point 800 untuk pertanyaan wajib dan 100 point untuk pertanyaan rebutan  Dalam penyelenggaraan ivent ini tampak pengurus masing masing dari Dekopinda dari masing masing kabupaten dan juga guru pendamping dari masing masing sekolah. Usai acara Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi mengatakan kepada Wartawan, ivent ini akan dilakukan tiap tahunnya, dan untuk tahun 2014 yang menjadi tuan rumah adalah kabupaten Samosir.  Ditambahkan Kepala Dinas, Jonni Hutajulu, Perlombaan Tangkas Terampil Koperasi dilakukan untuk memperkenalkan Perkoperasian kepada Dunia Pendidikan, sehingga kedepan para anak didik lebih dalam mengetahui tujuan serta sasaran koperasi didirikan di indonesia, ucapnya dengan tenang seraya merasakan keberhasilan peserta dari Kabupaten Toba Samosir meraih Juara satu.    


 Sabtu, 31 Agustus 2013
12 Ciri Orang Terdidik :
01. Bangga Berkompetensi 02. Bangga Berdisiplin 03. Jujur dan dapat dipercaya 04. Bangga Bertanggungjawab 05. Terbiasa Bekerja Keras 06. Patuh pada Aturan 07. Memiliki Moral yang Baik 08. Suka Bekerjasama dengan Tim 09. Membuat Persiapan sebelum Bekerja 10. Memiliki rasa Percaya Diri 11. Menjaga harkat dan martabat keluarga 12. Berpenambilan baik dan menarik



Peserta Rakor SMK Tobasa

Pembukaan Oleh Ka. SMKN2 Balige

Pembukaan Oleh Kadis Pendidikan



Menurut Anda sudah Efektifkah Metode Pembelajaran yang diterapkan di SMK Negeri 2 Balige dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan ?
Belum Efektif
Sudah Efektif
Tidak Tahu
Ragu-ragu
 View Vote
Undangan Syukuran Tahun Baru 2011
Kamis, 13 January 2011

Rapat Koordinasi
Rabu, 12 January 2011

[ Selengkapnya ]

Fungsi Pendidikan
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes). Mempersiapkan anggota masyarakt untuk mencari nafkah, fungsi laten lembaga sebagai wadah pendidikan, melalui pendidikan di sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan danya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan dan sikap terbuka. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Memilih dan mengajarkan peranan sosila.

[ Selengkapnya ]




Copyright 2010 - Website Resmi SMK Negeri 2 Balige, Hak cipta dilindungi Undang-Undang
E-mail kirim ke: smkduabalige@yahoo.co.id
Admin Site by : Sungguli Napitupulu, S.Pd.